Sabtu, 15 September 2012

Perkembangan Uang Kertas di Indonesia

A.    Jaman Pemerintahan Hindia Belanda (1610-1811)
Uang kertas tertua di Indonesia tercatat keluar pada tahun 1782, dimana peredarannya hanya terbatas di kawasan Ambon, Banda, Batavia / Jakarta dan Ternate. Bentuk uang kertas ini sangat sederhana sekali, mirip bon atau pamflet kecil, dan dapat dikatakan sebagai uang "sebelah" karena hanya dicetak dibagian muka dengan menggunakan mesin stensil, sedangkan bagian belakang masih dibiarkan kosong. Uang ini dicetak dalam jumlah sedikit. Peredarannya hanya terbatas pada kalangan Belanda dan orang pribumi tertentu (golongan ningrat / bangsawan / pedagang ). Seperti uang kertas masa kini, uang tersebut pun memiliki tanda tangan dan stempel penguasa saat itu, yaitu VOC.





Uang ini dikeluarkan sampai tahun 1855 dan sedikit demi sedikit ada perbaikan di bidang bentuk dan penampilan, dan mulai memiliki nilai nominal dan pengamanan, seperti uang kertas 1 Gulden 1815 seri "Kreasi", dimana sudah menggunakan ornamen sebagai garis tepi (border), sudah menggunakan pengamanan karena kertas uang yang digunakan adalah kertas bergaris, dan yang menarik disini adalah telah digunakan bahasa Arab-Melayu dan bahasa Belanda.
Javasche Bank adalah instansi yang berperan aktif dalam hal moneter di Hindia Belanda setelah kejatuhan VOC. Mereka mulai ambil bagian pada tahun 1828, dimana mereka mengedarkan satu seri biljet Javasche Bank yang masih berupa uang "sebelah", tapi sudah semakin maju, dimana setiap mata uang yang dikeluarkan sudah memiliki nomer seri dengan tulisan tangan, dan pada tahun 1832 dikeluarkan seri Tembaga, dimana uang kertas ini mirip dengan kwitansi yang kita kenal sekarang. Pada tahun 1846 diedarkan uang seri "Recipes", kemudian tahun 1851 diedarkan uang seri "biljet Javasche Bank". 




Sedangkan uang kertas yang lengkap dan utuh, dimana kedua permukaanya terisi penuh dengan gambar / huruf / ornamen seperti umumnya uang kertas masa kini, baru muncul sekitar tahun 1864 dengan dikeluarkan seri "Bingkai / Frame" tulisan dan ornamen yang ada tidak lagi didominasi dengan warna tinta hitam, melainkan sudah bervariasi dengan penggunaan beranekaragam warna, dan sudah menggunakan teknologi modern "tanda air / watermark" berupa tulisan "Javasche Bank".
Ciri khas yang mendominasi pada uang kertas Hindia Belanda pada periode ini adalah digunakan gambar / potret "Jan Pieterszoon Coen" baik berupa gambar kepala ataupun lengkap seluruh badan. Jan Pieterszoon Coen adalah Gubernur Jendral yang berpengaruh pada tahun 1618–1629, dimana dia adalah pendiri kota Batavia yang sebelumnya bernama Jacatra dan sekarang bernama Jakarta. Dibawah kepemimpinanya, VOC berhasil menguasai kepulauan Nusantara dengan politiknya yang terkenal "Devide et Impera" (Politik adu domba). Seri ini berlanjut dengan dikeluarkan seri "Coen 1" pada tahun 1901.
Pada tahun 1933, Javasche Bank mengeluarkan seri uang bergambar "wayang orang" dengan nominal pecahan 5 gulden sampai 1.000 Gulden. Penampilan uang kertas ini sangat indah dibandingkan dengan uang kertas Hindia Belanda lainya, dimana secara grafis uang ini kaya akan warna dan sangat artistic



 Pada tahun 1940 keluar lagi uang kertas Hindia Belanda seri Munbiljet, dimana yang menarik dari seri ini adalah pada pecahan 1 guldennya di bagian belakangnya menggunakan gambar "Stupa candi Borobudur", dan mungkin pada saat itu pemerintahan Hindia Belanda mengakui keindahan candi Borobudur dan mengabadikannya di dalam uang kertasnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;